Metode Menentukan Kondisi Nutrisi Sapi Betina

PecintaSatwa.com – Body Condition Scoring (BCS) merupakan suatu metode praktis yang digunakan oleh peternak untuk menentukan kondisi nutrisi sapi betina dalam peternakan pembibitan sapi potong dan peternakan sapi perah. Tinggi

Body Condition Scoring 5-6

Body Condition Scoring 5-6

rendahnnya BCS sapi, sangat berpengaruh pada kesehatan fisik sapi, termasuk diantaranya adalah performa reproduksinya, seperti keberhasilan Program Inseminasi Buatan (IB) yang ditunjukkan dengan angka konsepsi, calving interval (jarak kelahiran pedet dengan kelahiran sebelumnya), dan open cows (“masa kosong” setelah melahirkan hingga dapat bunting kembali). Oleh karena itu, BCS selalu diperhitungkan pada musim kawin sebelum melakukan perkawinan, terlebih jika suatu peternakan menerapkan perkawinan dengan metode sikronisasi birahi.

Baca: Apa saja penyebab Keracunan pada Ternak

Body Condition Scoring (BCS) yang digunakan untuk sapi pedaging menggunakan penilaian dengan skala 1-9, hal ini didasarkan pada pengamatan pada kondisi morfologis sapi, diantaranta: tulang belakang, pangkal ekor, tulang pinggul depan dan belakang (pins and hooks), tulang rusuk dan gelambir bagian dada. Observasi dan penentuan BCS dilapangan dapat dilakukan dengan menggunakan tabel berikut:

Titik Pengamatan Body Condition Scores
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Kondisi umum yang buruk/lemah ya tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak
Atropi otot ya ya sedikit tidak tidak tidak Tidak tidak tidak
Benjolan tulang punggung terlihat jelas ya ya ya sedikit tidak tidak Tidak tidak tidak
Garis rusuk terlihat jelas semua semua semua 3-5 1-2 tidak Tidak tidak tidak
Bejolan tulang pinggul tampak ya ya ya ya Ya ya Sedikit tidak tidak
Lemak pada gelambir dada dan legok lapar tidak tidak tidak tidak tidak sedikit Penuh penuh Sangat penuh
Perlemakan pada pangkal ekor tidak tidak tidak tidak tidak tidak Sedikit penuh Sangat penuh

Dimodifikasi dari Pruitt, 1994

Body Scoring Sapi yang Ideal

Idealnya, sapi sehat dengan performa reproduksi yang baik memiliki BCS 5-7, semakin rendah BCS nya, sapi akan terlihat kurus dan perlu diberi perlakuan khusus demi mengotimalkan kondisi tubuhnya, begitu pula dengan BCS yang semakin tinggi mengindikasikan sapi obesitas, sehingga harus dipantau selama pelaksanaan perkawinan, kebuntingan, hingga kelahiran, karena sapi gemuk rawan mengalami kesulitan waktu melahirkan (distokia).

Simak: Segera Tangani Sebelum Bobot Sapi Merosot

Body Condition Scoring 7-8

Body Condition Scoring 7-8

Body Condition Scoring (BCS) sebaiknya dimonitor minimal 3 kali dalam satu kali siklus pemeliharaan, yakni waktu sapih, 2-3 bulan sebelum melahirkan, dan saat melahirkan. Pemantauan BCS pedet waktu disapih berguna untuk melakukan pengelompokkan. Kelompok-kelompok ternak didasarkan pada BCS nya guna dilakukannya program nutrisi yang berbeda pada setiap kelompok, sehingga ketika masuk masa kawin dapat dicapai BCS yang seragam pada semua kelompok.

Penilaian BCS pada saat 2-3 bulan sebelum kelahiran digunakan sebagai evaluasi pemeliharaan selama kebuntingan, setelah itu pada masa kering tersebut dibuat suatu program nutrisi yang terbaik guna mempersiapkan kelahiran, dengan tujuan mengusahakan kelahiran normal tanpa kesulitan yang berarti, bobot pedet yang dilahirkan optimal dan tidak disertai adanya gangguan reproduksi pasca kelahiran.

Baca: Beberapa Jenis Hijauan untuk Makanan Ternak Anda

Monitoring BCS waktu kelahiran juga penting dilakukan, karena beberapa hari pasca kelahiran sapi biasanya akan mengalami penurunan BCS, hal ini sebaiknya tidak diabaikan, oleh karena itu BCS harus segera kembali ditingkatkan dengan memberi pakan khusus post partum untuk menstabilkan kondisi sapi pada masa laktasi. Disamping itu juga untuk mengoptimalkan kesehatan sapi selama terjadinya involusi uteri, dengan demikian sapi akan segera birahi kembali dan dapat segera dikawinkan lagi setelah 45-65  hari pasca kelahiran.

(Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.