Binturong

binturong

binturong

Apa yang terjadi jika seekor kucing kawin dengan seekor beruang? Ya, memang terdengar tidak lazim, tapi mungkin itulah yang pertama kali dipikirkan oleh para ahli zoologi di masa lampau ketika pertama kali bertemu dengan binturong. Ya, hewan karnivora asli Indonesia ini memang unik: badan dan tengkoraknya  besar seperti beruang, dengan cakar yang bisa ‘disembunyikan’ layaknya kucing. Hal inilah yang membuat mereka menamainya ‘bear-cat’, campuran antara kucing dan beruang yang enigmatik dari hutan di Asia Tenggara.

Ciri Khas Binturong

Faktanya, binturong bukanlah kucing ataupun beruang—secara taksonomis, hewan yang memiliki nama ilmiah Arctitis binturong ini termasuk dalam keluarga Viveridae atau musang-musangan. Ciri khas dari famili ini adalah badan yang memanjang dengan tungkai pendek dengan 5 jari di masing-masing kakinya, cakar yang dapat ‘ditarik’ masuk secara tidak sempurna, serta kelenjar bau yang ada di dekat anus. Binturong merupakan anggota terbesar dari keluarga tersebut, dengan panjang tubuh mencapai 90 cm dan berat 32 kg. Tubuhnya pun terlihat lebih gemuk dan lebih kuat dibandingkan dengan musang pada umumnya, membuatnya lebih terlihat seperti ‘beruang mini’ dengan ekor yang panjang.

Simak juga: 8 Fakta Unik tentang Burung Merak

Arctitis binturong

Arctitis binturong

Badan binturong yang besar ditutupi oleh rambut-rambut kasar berwarna hitam keperakan. Ekornya panjang dan gemuk, penuh dengan otot kuat yang membuatnya bisa digunakan untuk menggenggam tajuk pohon untuk bergelantungan. Tengkoraknya pendek seperti kucing, dengan taring yang besar khas hewan karnivora, meskipun sebenarnya hewan ini lebih menyukai buah-buahan sebagai makanan utamanya. Matanya yang besar digunakan membantunya dalam beraktivitas di malam hari, sesuai dengan sifatnya yang nokturnal.

Habitat Binturong

Secara global, Binturong tersebar di hutan Asia Tenggara dan Asia Selatan, mulai dari bagian utara India, Nepal, Bangladesh, Yunnan, serta seluruh negara ASEAN hingga Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Hewan ini jarang ditemui di habitatnya, yang terdiri atas hutan yang lebat dengan banyak tempat persembunyian hingga ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Hal ini disebabkan oleh kemampuan bersembunyinya yang baik, ditambah lagi dengan kebiasaannya yang suka beraktivitas di tajuk-tajuk pohon tertinggi di hutan.

Binturong aktif di siang dan malam hari, namun lebih sering melakukan aktivitasnya di senja hari. Binturong jarang melompat karena tubuhnya yang besar, dan lebih sering turun ke tanah jika tidak ada dahan yang bersambung ke pohon lain di tajuk hutan. Dengan menggunakan cakarnya, hewan ini memanjat dahan secara perlahan-lahan sambil berpegangan dengan ekornya yang kuat. Giginya yang besar digunakan selain untuk berburu, juga untuk mempertahankan dirinya dari ancaman yang berbahaya.

Arctictis-BinturongMeskipun termasuk dalam ordo karnivora, binturong merupakan satwa omninvora yang memakan baik hewan lain maupun tumbuh-tumbuhan. Buah beringin atau ficus merupakan makanan utama satwa besar ini, disamping beberapa jenis buah-buahan lain yang bisa ditemukan di hutan. Selain itu, binturong juga berburu berbagai hewan-hewan kecil seperti burung dan telurnya, hewan-hewan pengerat, reptil kecil, dan lain-lain. Hal ini membuat binturong bisa bertahan hidup di hutan, dengan berbagai pilihan makanan yang bisa ia pilih sesuka hati.

Binturong Bukan Peliharaan

Saat ini, binturong termasuk dalam status vulnurable dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hal ini disebabkan oleh berbagai macam ancaman yang dihadapi satwa unik ini, khususnya perburuan dan kerusakan habitat. Hewan ini diburu karena dianggap organ tubuhnya dapat menjadi ramuan obat yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Beberapa orang juga memburu Binturong untuk dijadikan peliharaan eksotis, meskipun sebenarnya hal ini dilarang oleh hukum. Selain itu, penebangan hutan dan pembukaan lahan juga semakin mempersempit wilayah hidupnya, membuat hewan ini semakin terancam.

Baca pula: CITES – Standar Legalitas Perdagangan Satwa Internasional

Akan sayang sekali jika satwa unik ini hilang dari muka bumi akibat kerakusan manusia yang tidak ada habisnya. Sudah menjadi tugas kita untuk melindungi keberadaan binturong di alam sebagai salah satu harta warisan dari nenek moyang untuk anak cucu kita. Mari lindungi si kucing-beruang ini, dan  berhenti membeli satwa liar untuk dijadikan hewan peliharaan.

 

Panji Gusti Akbar