Cara agar Produksi Susu Sapi Maksimal

PecintaSatwa.com – Bagi perusahaan yang bergerak di bidang persusuan atau dairy industry, optimalisasi produksi susu selalu menjadi perhatian utama. Berbagai macam cara telah dilakukan, meliputi penerapan manajamen pemeliharan, manajemen kesehatan, dan manajemen pakan yang terbaik, disertai dengan monitoring dan evaluasi berkala untuk menjaga stabilitas hasil produksi. Tidak cukup berhenti sampai disini saja, penelitian – penelitian terkait dengan peningkatan kualitas dan kuantitas susu juga terus dilakukan, baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan pihak universitas, disamping itu up date teknologi terkini pun selalu diikuti demi kemajuan progress bisnis dairy industry. (baca juga: Sapi kembung bagaimana mengatasinya?)

Begitu hal nya dengan peternak rakyat, dimana saat ini hampir semua peternak sapi perah telah menjalin kerja sama mutualistik dengan dairy industry, sehingga para peternak pun dituntut untuk dapat menghasilkan  susu yang berkualitas unggul. Mau tak mau peternak pun harus bekerjaran dengan aplikasi metode – metode sederhana terbaru, dengan tujuan memaksimalkan produksi ternaknya, terkait dengan pendapatan yang dapat ia usahakan, karena harga susu yang dihasilkan peternak rakyat selalu berpatokan pada berat jenis, dan total solid (TS) sebagai indikasi kualitas susu.

Tips Memaksimalkan Produksi Susu Sapi

Beberapa yang dapat anda terapkan untuk memaksimalkan produksi susu sapi yang anda pelihara baik dalam skala industri maupun peternakan rakyat:

  1. Perbaikan manajemen masa kering

Masa kering juga memegang kunci keberhasilan masa produksi sapi perah, sayangnya hal ini sering kali diabaikan oleh peternak. Manajemen masa kering meliputi perbaikan nutrisi masa kering, dan penanganan masa kelahiran yang terbaik. Manajemen nutrisi yang baik pada masa kering meliputi: dry matter intake (DMI) berkisar antara 14-16kg, hindari penggunaan bahan pakan tinggi energy yang berlebihan, menstabilkan, terapi antibiotic mastitis subklinis pada masa kering, dan pemantauan kesehatan kuku.

  1. Minimalkan kejadian hipocalcemia subklinis

Hipokalsemia atau  milk fever di awal masa laktasi merupakan kondisi dimana kadar kalsim dalam darah sapi dibawah ambang normal (<8.0 mg/dL), hal ini mengindikasikan terjadinya beberapa penyakit sepeti ketosis, involusi uteri yang tertunda, penurunan asupan nutrisi. Keadaan ini akan  menurunkan produksi susu secara drastis, selain itu juga sangat berbahaya bagi kesehatan ternak, jika terjadi diluar batas toleransi tubuh ternak, sapi dapat ambruk, kejang dan lumpuh.

Untuk menanggulanginya, sejak masa kebuntingan, terlebih pada sapi dengan produksi susu yang tinggi, anda harus memberi pakan dengan asupan nutrisi yang seimbang, terutama kandungan kalsium dan phospornya. Karena kalsim dalam tubuh sapi bunting yang terus diperah, digunakan untuk pertumbuhan janin, produksi susu, dan untuk metabolisme tubuh sapi itu sendiri.

Selain itu, pelaksanaan manajemen masa kering jangan diabaikan, sebagai langkah awal perbaikan kondisi sapi sebelum melahirkan dan kembali memproduksi susu kembali dengan kualitas dan kuantitas sama baiknya dengan periode sebelumnya.

  1. Optimalisasi asupan pakan setelah kelahiran

Segera setelah melahirkan, sapi harus distimulasi untuk makan sabanyak banyaknya, ini bertujuan untuk menjaga kestabilan tubuh sapi pasca kelahiran juga untuk mendorong kinerja organ tubuh untuk memproduksi susu sapi yang berkualitas dan maksimal.

Segera setelah kelahiran, disarankan untuk mengisi palungan minum dengan air hangat siap minum untuk sapi, anda dapat menambahkan gula dan vitamin anti stress dalam minum tersebut. Rasa manis akan meningkatkan keinginan sapi untuk minum, sedangkan vitamin anti stress dapat membantu pengembalian kondisi fisik sapi pasca kelahiran.

Sediakan rumput yang telah dilayukan, yang merupakan kegemaran sapi seperti rumput gajah, atau  tebon jagung, juga dapat pula ditambahkan konsentrat yang harum untuk meningkatkan nafsu makan sapi. Letakkan pakan dan minum tersebut dalam palungan yang terlebih dahulu telah dibersihkan, juga selalu jagalah kebersihan sekitar kandang untuk membuat sapi lebih nyaman.

  1. Memaksimalkan tingkat kenyamanan sapi

Kenyamanan, berhubungan dengan tingkat stress, dan stress selalu mempengaruhi kondisi fisik ternak yang berpengaruh langsung pada produksi ternak. Karena itu sebagai peternak, sudah sewajarnya kita memberikan kenyamanan yang sebaik-baiknya bagi sapi peliharaan kita. ( Simak: Merawat Pedet Sapi Pedaging)

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menempatkan sapi sesuai dengan tingkatan fase reproduksinya, seperti sapi bunting tua dikelompokkan dengan sapi bunting tua, dengan tingkat kepadatan yang seimbang, jika kandang terlalu padat sesak maka stress sangat mudah terjadi. Sediakan kandang kelahiran juga untuk sapi mendekati masa-masa melahirkan, agar kelahiran dapat terjadi dengan lebih nyaman, cepat, dan mudah. Pakan dan minum yang cukup harus selalu menyertai tindakan ini.

  1. Pencegahan Asidosis Rumen

Selalu sediakan alfafa atau rumput adlibitum selama 5 hari setelah melahirkan. Makanan yang baik dibutuhkan untuk menjaga kualitas laktasi awal.  Makanan dan minuman harus selalu tersedia di palungan, hindari palungan kosong terlalu lama, karena sapi dengan perut kosong sangat berpotensi untuk terjadinya asidosis rumen.  Konsentrat dengan kadar serat seimbang juga dibutuhkan, hindari penggunaan hijauan terfermantasi berlebihan, karena ph makanan yang terlalu asam dapat memicu terjadinya asidosis rumen. Pastikan pakan yang diberikan pada sapi telah melalui kontrol kualitas untuk memastikan kadar nutrisi, dan keseimbangan pH sebelum diberikan pada sapi.

  1. Evaluasi BCS (Body Condition Scoring)

BCS yang disarankan untuk sapi melahirkan hingga laktasi awal adalah 3-3.5 dengan skala BCS 4. BCS mengindikasikan kesehatan sapi, berdasarkan ukuran tubuhnya. Sapi yang terlalu kurus sangat beresiko untuk mengalami permasalahan saat dan pasca kelahiran berhubungan dengan kecukupan nutrisi pada dirinya, pedet, dan berlanjut pada banyak susu yang diproduksi selanjutnya.

  1. Hindari penggunaan zat antinutrisi

Bagi industri peternakan atau kelompok ternak yang memproduksi pakan secara mandiri tentu lebih banyak menggunakan bahan-bahan  limbah pertanian, dengan tujuan menekan biaya produksi semaksimal mungkin, namun perlu anda ketahui beberapa bahan yang mengandung zat anti nutrisi sepert sianida pada singkong, gaplek dan olahan singkong lainnya, zat anti nutrisi pada klentheng, dan pada alfafa layu. Adanya zat anti nutrisi pada bahan-bahan tersebut bukan berarti anda tidak boleh memanfaatkannya, namun  lebih baik anda memastikan kandungan zat anti nutrisinya terlebih dahulu melalui uji laboratorium, dan tidak menggunakan sebagai bahan tunggal atau bahan dominan  pada formula pakan anda. Buatlah semurah mungkin, tetapi harus sehat dan aman untuk sapi.

  1. Tambahkan anti oksidan dalam pakan

Anti oksidan berguna untuk mencegah stress oksidatif dalam tubuh hewan yang merupakan penyebab terjadinya segala macam penyakit secara molekuler. Zat-zat antioksidan biasanya sudah terkandung dalam mineral mix atau premix, sebagai salah satu bahan pakan untuk sapi anda, zat-zat tersebut meliputi vitamin E, vitamin C, dan selenium. (Pelajari: Pentingnya Susu Pengganti bagi Pedet yang baru lahir)

Kecukupan anti oksidan dalam  pakan dapat meningkatkan kinerja sistem imun tubuh ternak, dan  mencegah terjadinya penurunan kondisi kesehatan sapi akibat kualitas udara yang buruk.(Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.