Kasus Keracunan pada Ternak

PecintaSatwa.com – Keracunan dapat menyebabkan kematian tiba-tiba dan kerugian yang besar bagi peternak. Karena itu, para peternak dan karyawan di sektor peternakan sebaiknya mendapatkan pelatihan untuk mengenali agen-agen pembawa racun, tanda-tanda keracunan dan penanggulanan kasus keracunan darurat. Sehingga ketika gejala keracuna terjadi, para petugas kandang segera cepat tanggap melakukan pertolongan darurat semaksimal mungkin.( Simak: Sapi Limosin – The Blondy Cattle )

Keracunan masal di padang penggembalaan

Keracunan masal di padang penggembalaan

Setiap bahan racun memiliki mekanisme kerja berbeda, menimbulkan variasi gejala klinis yang berbeda pula, berikut ini beberapa bahan yang  sering menyebabkan keracunan pada ternak:

  • Asam Sianida. Zat ini dikandung beberapa jenis tumbuhan, seperti: daun singkong, rumput sudan, rumput panahan, sorghum, Johnson grass, black cherry dan choke cerry. Pada ternak yang mengalami keracunan sianida akan mengalami kejang, diare, ber-airmata, sesak nafas. Tutup usia dapat terjadi paling cepat 15 menit setelah gejala pertama muncul, tergantung dari jumlah racun yang dikonsumsi dan keadaan fisik ternak.
  • Alfafa. Tumbuhan ini mengandung protein yang cukup tinggi, banyak diantara perusahaan per-susuan menggunakan alfafa sebagai salah satu bahan pakannya, namun waspadalah jika menggunakan alfafa layu, karena saat proses pelayuan, coumarin dalam alfafa berubah menjadi dicoumarin yang dapat merusak protrombin dalam darah, akibatnya masa pembekuan darah menjadi lebih lama. . alfafa layu sangat tidak disarankan dikonsumsi oleh ternak yang baru mengalami tindakan bedah, akan terjadi pendarahan terus menurus dan penundaan wound healing, hal ini tentu saja sangat berbahaya.
  • Botulism. Racun ini dihasilkan oleh Clostridium botulinum, biasanya terdapat pada pakan kemasan / pakan kalengan yang menjadi campuran pakan sapi di industri. Perlu diwaspadai apabila dalam kemasan kaleng tersegel terdapat bentuk yang tidak wajar, seperi kaleng terlalu menggembung. Botulism diproduksi oleh tubuh bakteri. Saat bakteri hidup, racun tersebut inaktif, namun ketika bakteri mati dan hancur tubuhnya maka racun itupun keluar, menjadi sangat berbahaya.
  • Arsenik. Pakan mengandung arsenic dapat disebabkan karena disimpan dalam gudang yang dengan atap berbahan arsen, selain itu juga digunakan obat-obatan mengandung arsen dalam peternakan, penggunaan racun tikus yang memiliki kandungan arsen sangat berbahaya. Sapi potong dan unggas sangat peka dengan arsen. Saat keracunan, ternak akan mengalami diare berwana hitam, tidak mau makan, otot-otot bergetar, kejang, adanya rasa sakit dibagian perut (kolik), bahkan dapat terjadi kematian mendadak tanpa gejala klinis.
  • Nitrat. Keracunan nitrat dapat terjadi pada sapi, babi, unggas yang diberi pakan hijauan terfermentasi dengan kandungan nitrat tinggi saat proses pembuatannya. Disamping itu, hijauan segar khususnya yang muda dapat mengandung nitrat berlebihan apabila dalam penanamannya menggunakan pupuk berkadar nitrat tinggi, kualitas tanah tempat menanam rumput mengandung nitrat berlebihan, atau adanya kondisi tertentu yang menyebabkan bakteri pengubah nitrat dalam tanah seperti clostridia tumbuh semakin cepat. Hewan yang mengalami keracunan nitrat, biasanya akan mengalami penurunan produksi susu, gangguan kebuntingan, matanya kebiruan, kembung, diare, kolik, dan sesak nafas.
  • Mercury. Bahan kimia ini didapat dari bahan pakan hasil sampingan industri yang diolah secara kimiawi menggunakan mercury. Pemeriksaan racun dan logam perlu dilakukan pada bahan-bahan jenis ini sebelum dicampurkan dalam pakan, selain pemeriksaan kadar nutrisi. Gejala klinis keracunan mercury mirip seperti keracunan arsen, namun pada kejadilan yang kronis dapat dilihat adanya penurunan berat badan secara drasitis, radang lambung, radang gusi hingga gigi tanggal, radang ginjal, nafsu makan menurun, dan sapi banyak mengeluarkan air liur / “ngiler”. ( Anda perlu tahu: Tips Memilih Sapi Bakalan yang Menguntungkan )

Pencegahan Keracunan pada Ternak

Kasus keracuan sangat berbahaya bagi ternak, gejala klinis yang ditunjukkan dapat berbeda pada setiap individu, tergantung pada jumlah zat yang meracuni dan kondisi tubuh ternak. Pemeriksaan kandungan kimia dan logam pada bahan pakan perlu dilakukan secara rutin sebagai tindakan antisipatif. Manajemen penataan gudang pakan juga harus diperhatikan, gunakan prinsip FIFO (first in first out), jangan menimbun bahan pakan terlalu lama, terlebih dalam kondisi gudang yang lembab dan padat. Rawatlah hewan ternak sebagaimana anda menghargai diri sendiri, dengan demikian mereka akan memberikan hasil terbaik untuk Anda. Selamat beternak! (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.