Menjadi Penyayang Binatang ?

Burung Macau

Burung Macau

Masih ingat kasus penyelundupan 21 ekor burung kakak tua jambul kuning pada tanggal 4 mei 2015 yang digagagalkan oleh Polsek Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya? Puluhan burung cantik endemis Papua ini dimasukkan ke dalam botol air mineral, dibawa dari Papua untuk diperjual belikan di pulau Jawa melalui perjalanan laut. Baik media cetak, televisi dan internet ramai membahasnya. Berbagai gerakan bermunculan, para aktivis dan netizen penyayang hewan menyerukan Selamatkan si jambul kuning #savesijambulkuning.

Tapi… kenapa kita peduli???  Haruskah kita peduli????

Ya!!!.. kita harus!!! Itu lah satu jawaban bulat yang harus kita tegaskan, bukan karena kita pecinta satwa, bukan karena kita pemelihara hewan kesayangan, dan bukan karena kita pertenak, tapi karena kita Manusia. Manusia yang beradab, manusia yang mendengungkan hak asasinya, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, dan hak untuk bahagia, tentu peduli dengan hak kelayakan hidup untuk hewan, yakni animal welfare, Kesejahteraan Hewan.

Banyak jenis hewan disekitar kita, ada yang hidup bebas liar di alam terbuka, ada yang bersahabat dengan kita, bahkan menjadi bagian dalam keluarga, ada yang menjadi bagian dalam mata pencaharian, ada pula yang berkontribusi dalam kemajuan penelitan dan pendidikan. Bagaimana kita harus mensejahterakannya?

Llama

Llama

Sebagaimana kita, manusia, hewan diciptakan Tuhan di alam ini dengan fitrahnya, perannya tersendiri untuk keseimbangan hidup dunia. Hewan-hewan ternak digembalakan dan dipelihara untuk diambil manfaatnya  sebagai bahan konsumsi, hewan kesayangan dirumah kita untuk memberikan kehangatan, kebahagian dan ketentraman, begitu pula dengan jenis hewan lain, mereka hidup dengan kemanfaatannya.

Prinsip Animal Welfare

Dasar dari kesejahteraan hewan yang harus kita pahami di terapkan, -seperti yang dijelaskan oleh John Webster- adalah mengusahakan hewan disekitar kita untuk dapat hidup normal alami, sehat dan bugar, serta bahagia. Lebih terperinci dari 3 konsep Webster tersebut, terdapat 5 prinsip animal welfare secara general, diantaranya :

Baboon

Bageneral, diantaranya:

  1. Bebas dari rasa lapar dan haus. Sebagai pemilik atau pemelihara hewan, kita wajib untuk menjamin ketersediaan makanan untuk hewan yang menjadi tanggung jawab kita. Makanan yang baik, bernutrisi, menyehatkan dan menjaga kelangsungan hidupnya. Disamping itu, air bersih juga harus mudah didapatkan hewan disekitarnya secara ad libitum atau tak terbatas.
  2. Bebas dari ketidaknyamanan. Hewan patut mendapatkan lingkungan yang nyaman, tempatnya untuk beristirahat, bermain dan beraktivitas, baik di rumah, di peternakan, di kandang, maupun di lingkungan penampungan hewan sementara / animal shelter.
  3. Bebas dari rasa sakit dan penyakit. Penjagaan kesehatan hewan tentunya harus diperhatikan. Vaksinasi rutin sesuai kebutuhannya harus dilakukan, begitu juga apabila kondisi hewan terlihat kurang baik, sepantasnya kita memberikan terapi medis dan perawatan yang baik
  4. Bebas mengekspresikan perilaku normal dan alami. Dalam hal ini, biarkan hewan kesayangan anda menjadi dirinya seutuhnya, jangan paksakan ia meniru kebiasaan kita sebagai manusia, seperti memberinya baju dengan kain tebal yang membuat kulitnya iritasi, memberi asesoris yang berlebihan, mengurangi bagian tubuh agar terlihat cantik (potong ekor dan potong telinga), atau melatihnya untuk melakukan atraksi dengan siksaan dan pukulan. Biarkan dia berprilaku selayaknya dia hidup.
  5. Bebas dari rasa takut dan tekanan. Hidari untuk menghardik, membentak, apalagi memukul hewan. sentuhlah dengan kasih sayang, dan pandanglah ia sebagai makhluk ciptaan Sang Kuasa yang berharga, yang tak patut dihina.

Konsep Animal Welfare

Harimau

Harimau

Saat ini, konsep animal welfare telah menjadi prinsip setiap organisasi didunia yang berhubungan dengan kehidupan hewan, seperti OIE/WAHO (world animal health organization), FAO (food and agriculture organization) dan WHO (World healt organization). Sehingga disetiap langkah kerjanya selalu mempertimbangkan kesejahteraan hewan, baik pada hewan ternak, hewan kesayangan, hewan coba, dan satwa liar.

Pada tata laksana pemeliharaan hewan ternak, prinsip kesejahteraan hewan ditekankan pada sistem pemeliharaan yang ideal, kapasitas kandang yang tepat tidak terlalu padat, dan perlakuan yang baik saat penyembelihan, dengan metode secepat dan seaman mungkin sehingga hewan tidak merasakan kesakitan terlalu lama.

Disisi lain, dalam dunia penelitian penggunaan hewan coba selalu diawasi. Para peneliti yang akan menggunakan hewan coba dalam penelitiannya wajib mengikuti sidang dengan komisi etik yang terdiri dari dokter hewan berwenang untuk membahas mengenai metode penelitian dan seberapa jauh hewan tersebut berkontribusi. Komisi etik harus memastikan bahwa jumlah hewan coba yang digunakan tidak terlalu banyak, metode yang akan diterapkan tidak terlalu menyakitkan, dan pemeliharaan yang dilakukan sesuai dengan standar kebutuhan hewan tersebut. Hewan coba yang sering digunakan dalam penelitian yaitu tikus, mencit, monyet, kelinci, dan unggas.

Rusa tutul

Rusa tutul

Demikian halnya dengan aplikasi animal welfare pada hewan kesayangan. Kini telah banyak non government organization (NGO) internasional dan nasional yang mengkampanyekan tentang kesejahteraan hewan pada hewan kesayangan seperti world animal protection, international fund for animal welfare, dan masih banyak lagi. Mereka membuat panduan untuk menjaga populasi hewan, mengedukasi pemilik hewan maupun masyarakat umum mengenai pentingnya kesejahteraan bagi hewan dan cara bagaimana hidup berdampingan dengan hewan sehingga tidak ada hewan yang tersiksa selama dipelihara manusia.

Aturan Perdagangan dan Konservasi Satwa

Di bidang konservasi satwa liar, aturan kesejahteraan hewan tercantum dalam kesepakatan international yang disusun pada tahun 1964 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), dengan anggota 1200 lembaga pemerintah dan non-pemerintah dari seluruh dunia yang aktif di bidang pelestarian lingkungan, IUCN list berisikan daftar panjang klasifikasi hewan berdasarkan tingkat kelangkahannya. Selain itu juga ada CITES (Convention on International Trade of Edangered Species), perjanjian multilateral untuk mengatur perdagangan satwa liar. CITES telah disepakati oleh 180 negara di dunia, termasuk Indonesia (diratifikasi dalam Keputusan Pemerintah no. 43 tahun 1978). Dengan tujuan untuk melindungi hewan-hewan langka yang terancam punah terutama akibat perburuan liar dan perdagangan di pasar gelap.

Zebra

Zebra

Sedangkan di Indonesia, Kewajiban pelaksanaan animal welfare secara nasional telah diatur dalam UU 2009 No 18 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. pada bab VI pasal 61 dijelaskan bahwa daging yang beredar dipasaran harus mengikuti cara penyembelihan dalam asas kesejahteraan hewan, disamping itu, pada pasal 66-67 dijelaskan mengenai animal welfare yang harus dilakukan secara manusiawi, pasal ini sinkron dengan prinsip global 5 freedom for animal. Dalam UU tersebut  juga dijelaskan tentang adanya hukuman / sanksi untuk para perlanggar undang-undang. Karena itu lah, para pelanggar kesejahteraan hewan di Indonesia dapat dipidanakan atau dituntut dipengadilan atas dasar pelanggaran UU yang dilakukan.

 

Tri Bhawono Dadi, drh., M.Vet.