Bebek Terkena Flu Burung

Bebek beresiko terkena flu burung

Bebek beresiko terkena flu burung

Akhir tahun 2012 dan sepanjang tahun 2013 hingga sekitar pertengahan tahun 2014 lalu, kita, khususnya para pelaku dunia perunggasan, dihebohkan dengan disiarkannya berita-berita kematian bebek dan atau itik-itik di berbagai daerah di Indonesia. Kasus kematian pada jenis unggas tersebut dikabarkan terjadi mendadak tanpa diawali dengan  gejala klinis, dan tingkat kematiannya pun tinggi dalam satu populasi. Pada bulan September sampai dengan November 2012  dilaporkan terjadinya kematian yang cukup tinggi pada itik di daerah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sampai pada bulan Oktober 2013, perkembangan kasus kematian pada populasi itik telah dilaporkan dari 18 provinsi dengan total populasi itik yang mati sebesar 333.635 ekor.

Sejak pertama kali kasus ini merebak, berbagai pihak sudah menduga bahwa kematian yang tinggi pada populasi itik tersebut disebabkan oleh penyakit Avian Influenza(AI)/flu burung, meski ketika itu banyak juga yang meragukan karena selama ini itik dan jenis unggas air lainnya dikenal lebih tahan terhadap infeksi virus AI. Akhirnya pihak – pihak yang berkepentingan melakukan riset dan investigasi, untuk mengetahui dengan jelas apa penyebab dari penyakit infeksius yang menyebabkan kematian pada itik tersebut. Salah satu pihak yang melakukan riset dan investigasi ini adalah lembaga pemerintah terkait, yaitu Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates.

Virus Flu Burung pada Bebek

Hasil dari riset dan investigasi yang dilakukan oleh tim Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, seperti yang diungkapkan dalam Buletin Laboratorium Veteriner- Balai Besar Veteriner Wates Jogyakarta Ed. Oktober-Desember 2012, mengarah pada infeksi AI subtype H5N1. Lebih lanjut disebutkan juga bahwa berdasarkan hasil sekuensing, virus AI subtype H5N1 yang ditemukan bukan berasal dari garis keturunan H5N1 virus clade 2.1 yang telah endemis di Indonesia karena memiliki tingkat kekerabatan yang lebih tinggi terhadap virus-virus AI H5N1 dari clade 2.3.2.1. Berdasarkan analisis filogenetik, virus AI yang diisolasi dari kasus kematian pada itik tersebut digolongkan dalam clade 2.3.2.1. Berbagai pihak yang melakukan riset serupa, baik dari institusi pemerintah maupun swasta (perusahaan farmasi obat hewan) juga bermuara pada kesimpulan yang sama, yaitu ditemukannya virus AI H5N1 clade 2.3.2.1.

Wabah Flu Burung pada Bebek

Wabah Flu Burung pada Bebek

Virus AI H5N1 clade 2.3.2.1 ini kemudian oleh masyarakat awam dikenal atau disebut sebagai ‘AI bebek’. Tidak seperti namanya, ternyata ‘AI bebek’ ini juga kemudian diindikasikan  menyerang ayam. Para peternak (atau pengusaha ternak?) ayam ras yang memiliki populasi diatas 20.000 ekor (sektor 3) dibuat khawatir dengan keberadaan dari ‘AI bebek’ ini. Beberapa kasus kematian yang terjadi pada ayam ras, baik petelur maupun pedaging, pada saat itu hampir selalu dikaitkan dengan dugaan serangan ‘AI bebek’. Apalagi  sepanjang tahun 2013 itu, isu yang beredar di antara para peternak adalah katanya ‘AI bebek’ alias AI clade 2.3.2.1 ini lebih ganas daripada kelompok AI clade 2.1 yang telah terlebih dahulu endemis di Indonesia. Terus isu yang lain lagi, katanya vaksin AI yang ada selama ini karena menggunakan strain virus AI clade 2.1 tidak bisa digunakan lagi, harus diganti vaksin AI baru yang berisi  virus AI clade 2.3.2.1. Isu-isu yang beredar saat itu tak pelak  menimbulkan kepanikan, dan kebingungan para peternak (pengusaha ayam)!

Baca: Tips Membersihkan Kandang Unggas

Padahal, secara keilmuan istilah ‘clade’ itu digunakan untuk kepentingan pemetaan saja, yang menunjukkan dimana posisi virus tersebut dalam keluarga besar virus AI yang digambarkan dalam sebuah ‘pohon filogenetik’ (kalau dalam konteks manusia sama seperti ‘pohon keluarga’). Jadi istilah ‘clade’ hubungannya sama ilmu epidemiologi, tidak ada hubungannya dengan ‘keganasan’ atau sebutlah pathologi. Yang benar, baik clade 2.1 maupun clade 2.3.2.1 keduanya saama-sama ganas! Karena sama-sama High Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Hal ini sesuai juga dengan salah satu penelitian yang dilakukan di laboratorium Biosafety Level 3 dengan menggunakan metode Intravenous Pathogenicity Index (IVPI) untuk menguji patogenitas virus AI H5N1 clade 2.1.3 dan 2.3.2 pada ayam. Sebelumnya ayam ditantang dengan virus AI clade 2.1.3 dan 2.3.2. Hasilnya dilaporkan nilai patogenitas (pathogenicity index) kedua clade berada di atas angka 1,2. Menurut standar Office International des Epizooties (OIE) (2008), apabila pathogenicity index virus AI bernilai > 1,2 maka virus tersebut digolongkan dalam virus AI ganas atau HPAI.

Vaksin Avian Infuenza untuk Bebek

Kemudian, bagaimana yang terkait dengan katanya vaksin AI yang ada selama ini karena menggunakan strain virus AI clade 2.1 tidak bisa digunakan lagi, harus diganti vaksin AI baru yang berisi  virus AI clade 2.3.2.1? Terkait dengan hal tersebut, para peneliti dari Balai Besar Veteriner Bogor melakukan riset yang kemudian dipublikasikan di tahun 2014, sebuah publikasi yang berjudul ‘Efikasi Penerapan Vaksin AI H5N1 Clade 2.1.3 pada Itik Mojosari terhadap Tantangan Virus AI H5N1 Clade 2.3.2 pada Kondisi Laboratorium’. Hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan vaksin AI H5N1 clade 2.1.3 masih memiliki tingkat protektivitas yang tinggi terhadap tantangan virus AI H5N1 clade 2.3.2.

Berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang diperoleh dari beberapa hasil riset, yang dua diantaranya saya sebutkan di atas, dan semakin meningkatnya kecerdasan peternak dalam menyikapi suatu isu tertentu, pun dengan bantuan dari para dokter hewan  lapangan yang memberikan input informasi yang benar, pelan tapi pasti (ancaman) ‘AI bebek’ sudah mulai kehilangan eksistensi ~persisnya di akhir-akhir tahun 2014. Beritanya seolah hilang sendiri akhir-akhir ini, tidak seheboh seperti saat diawal kemunculannya. Tak lagi menjadi trending topic baik di media maupun di lapangan. Oh ‘Ai Bebek’, Riwayatmu Kini…

 

(Kontributor: drh. Arief Ervana)

 

Pecinta Satwa
Freelance Contributor at Pecinta Satwa [dot]com
Beberapa kontributor lepas yang menulis artikel untuk Pecinta Satwa [dot]com. Masih ada yang aktif menulis dan ada yang sudah tidak aktif.