Memilih Daging Sapi yang Aman

PecintaSatwa.com – Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang serba serbi fasciolasis yang menyerang sapi, bagaimana alurnya dan kerugian yang dihasilkan. Lalu, bagaimana dengan produk sapi yang kita konsumsi? Apakah aman jika kita mengkonsumsi daging sapi menderita fasciolasis? Bagaimana dengan sayur sayuran yang kita makan?, dimana sayur tersebut ditanam pada lahan basah tempah sibut Limnea rubigenosa hidup dan bekembang?

Banyak sapi yang baru diketahui menderita fasicolasis setelah disembelih, terutama pada sapi yang dipelihara oleh peternakan rakyat, saat organ hatinya diperiksa akan tampak kelainan-kelainan yang disebabkan oleh cacing hati. Peternak tidak menyadari hal demikian ketika memeliharanya, karena kemungkinan kasus ini terjadi secara kronis, dalam jangka waktu yang lama, perlahan namun pasti membuat ternak menderita, sedangkan peternak hanya melihat sapinya yang tak kunjung gemuk meski banyak makan, sehingga sang peternak pun menjualnya untuk disembelih. (Baca: Sapi Tidak Birahi – Hipofungsi Ovarium?)

Pemeriksaan Daging Sapi di Pemotongan

Di rumah potoh hewan (RPH), dilakukan pemeriksaan antemortem (sebelum disembelih) dan post mortem (setelah disembelih), sebagai kontrol kualitas atas daging sapi yang dipotong di RPH tersebut. Jika dijumpai adanya kelainan hati karena fasiciolasis, makan dokter hewan di RPH tersebut akan menyatakan sapi tersebut “layak dikonsumsi dengan syarat”.  Daging/otot sapi dapat dikonsumsi semua, kecuali bagian hatinya harus dibuang, begitu pula dengan organ dalam lainnya, apabila dinilai masih baik dan normal, dapat dinyatakan layak konsumsi, namun juga sudah terjadi kelainan akibat penyakit tersebut, maka seluruh organ dalam sapi wajib diafkir, tidak untuk dikonsumsi.

Sebenarnya hati sapi yang rusak karena fasciolasis tidak menyebabkan penyakit pada manusia jika mengkonsumsinya, karena stadium cacing yang aktif menyerang hewan atau manusia adalah dalam bentuk metacercaria yang banyak menempel pada tumbuh-tumbuhan air atau yang ditanam di lahan basah. Tapi, kenapa hati dan organ dalam tersebut dilarang untuk dikonsumsi?

Daging dan Organ Dalam Sapi yang Layak Dikonsumsi

Demi melindungi konsumen, kelayakan produk hewan untuk dikonsumsi didasarkan oleh 4 kriteria yaitu ASUH, Aman-Sehat-Utuh-Halal, sebagaimana tertuang dalam Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia, No18 Tahun 2009, Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Aman dari penyakit berbahaya yang menular melalui kontak maupun konsumsi, Sehat bergizi dan bernutrisi bagi manusia, utuh dalam kondisi baik tidak kurang suatu apapun karena penyakit, dan halal karena disembelih dengan baik sesuai syariat islam. Hal ini disepakati dan dan disahkan pemerintah untuk menjaga konsumen dari resiko terkena penyakit dan menjaga keamanan batin konsumen sesuai dengan kepercayaan agamanya.

Hati dan organ dalam sapi yang rusak karena fasciolasis digolongkan dalam kedaan tidak utuh dan tidak sehat. Tidak utuh karena sudah terjadi kelainan, yang menyebabkan bentuknya berubah dari keadaan normal menjadi tidak sehat karena jaringan hati dan organ dalam tersebut telah mengalami kerusakan sehingga nilai gizi nya telah menurun jauh dibandingkan dengan organ sehat. Karena itulah, organ yang rusak dinyatakan tidak layak dikonsumsi, sedangkan daging/otot yang sehat dapat dikonsumsi dengan aman.

sayuran segarHal terpeting yang harus kita waspadai adalah sayur-sayuran yang kita makan. Karena sayuran yang ditanam di media basah atau di air beresiko mengandung stadium aktif cacing, dalam bentuk kista maupun metacercaria. Apabila dalam mengolahnya tidak benar-benar hygen, bukan tidak mungkin kita terjangkit fasciolasis. (Simak: Apa Saja Penyebab Keracunan Ternak)

Sayur sayuran seperti kangkung, sawi, selada air, harus dicuci terlebih dahulu sebelum dimasak. Lebih baik anda mencucinya dengan air mengalir selama beberapa saat hingga bersih. Sabun pencuci buah dan sayur dapat juga digunakan, namun tetap bilas sayur anda dengan air mengalir hingga tidak ada sisa licin dan aroma sabun yang tertinggal, dan yang paling utama adalah tahap memasaknya. Masak sayur-sayuran hingga matang, meski tidak sampai terlalu lunak atau berubah warna, pastikan sayuran anda matang sebelum dihidangkan. Kurangi mengonsumsi salad, yang terdiri dari sayur-sayuran mentah terlebih jika anda tidak mengetahui asal sayuran tersebut dan bagaimana metode menanamnya.

Stay happy and keep healthy..! (Rind)

 

Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Editor in Chief at Pecinta Satwa [dot]com
Alumni Dokter Hewan UNAIR (2013), Master of Science UNAIR (2016) specific on Veterinary Reproduction, Large Animal Clinician, Pet Lover, dan Researcher Focus on Reproduction Nutrition.