Mengenal Kukang Lebih Dekat Lagi

kukang

kukang

Kukang (Nycticaebus sp.), siapa yang tidak tertarik melihat hewan satu ini. Matanya yang besar, bulunya yang coklat, lembut dan tebal, serta gerakannya yang lambat sekan malu-malu membuat setiap orang jatuh hati melihatnya. Tapi bukan berarti karena kita telah jatuh hati kita harus memiliki hewan ini dirumah, bukan itu.

Kukang meskipun lucu, ia tidak diciptakan untuk hidup dikandang sempit dirumah kita, ia diciptakan untuk berjalan bebas dialam menikmati getah pohon dan berburu serangga, bukan berdiam di lengan kita. Sudah saatnya kita mencintai satwa dengan benar, dengan memahami tingkah laku, kebiasaan dan habitat mereka.

Mari kita cintai kukang dengan mengenalnya lebih dekat, berikut enam hal tentang kukang yang perlu kalian tahu

Terdapat 3 spesies kukang di Indonesia

Bukan rahasia lagi bila Indonesia dikenal akan kekayaan flora dan faunanya, termasuk kukang. Di dunia terdapat 14 jenis kukang yang 3 diantaranya hidup di Indonesia. Ketiga jenis kukang tersebut adalah kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang borneo (N. menagensis), dan kukang besar (N. coucang).

Kukang adalah hewan nokturnal

Nokturnal adalah sebutan hewan yang aktif dimalam hari. Kukang termasuk salah satunya. Kukang akan aktif bergerak saat matahari mulai terbenam. Dia akan menjelajah habitatnya dan mencari makan pada malam hari. Saat malam ia akan mengeluarkan suara khas kukang. Saat siang hari kukang akan tidur. Bila tidur kukang akan menggulung badannya seperti bola, bersembunyi dibalik dedaunan di pohon tinggi untuk menghindar dari gangguan.

Saat kukang menjadi hewan peliharaan pola hidup ini berganti saat siang meskipun enggan dan malas dia terpaksa bermain bersama si pemilik dan saat malam dia akan tetap terjaga. Sungguh kasihan si kukang.

Kukang tidak bergerak lambat

Nama lain kukang memang “sipemalu” dan terkenal lambat. Saat kita melihat kukang, ia akan cenderung menutupi wajahnya. Kukang akan terlihat malu pada siang hari, karena ini waktunya beristirahat. Saat siang ia akan sembunyi dibalik pepohonan, bergerak lambat, dan menutup wajah. Tetapi bila malam telah tiba kukang akan berubah menjdi hewan yang aktif, bergerak cepat dari satu ranting pohon ke ranting lain untuk mencari makan dan menjelajah. Menampakkan wajahnya saat kita sorot dengan senter. Ya seperti yang dijelaskan diatas kukang merupakan hewan nokturnal sehingga ia akan aktif bergerak pada malam hari

Kukang memiliki bisa dan barisan gigi tajam yang berbahaya

Kukang memiliki bisa yang cukup berbahaya, racun kukang tersembunyi dibalik ketiaknya. Bisa ini akan mengeluarkan aroma khas. Meskipun bisa ini besembunyi dibalik ketiak tapi pengeluaran bisa melalui gigitan kukang. Bisa kukang merupakan alat untuk mempertahankan diri dari predator.

Kukang memiliki barisan gigi  depan yang tajam. Karena gigi ini pula kukang menderita. Barisan gigi yang tajam seringkali dipotong secara asal oleh para pemburu dan pedagang kukang. Pemotongan gigi yang asal membuat infeksi sehingga kukang susah makan dan berakhir sakit hingga kematian.

Hampir semua kukang hasil perburuhan dan perdagangan tidak memiliki gigi yang sempurna karena pemotongan. Pencabutan gigi sampai keakarnya diperlukan untuk menghindari infeksi, dan anehnya kukang meskipun tidak memiliki gigi dia akan tetap memiliki nafsu makan yang besar.

Kukang makan getah pohon dan serangga

Seringkali pecinta kukang salah dalam merawat kukang, memberi hanya pisang sebagai makanan. Meskipun kukang termasuk primata tapi ia tidak selalu makan pisang. Dia alam kukang juga senang makan getah pohon dan serangga kecil, pucuk bunga juga menjadi favorit kukang. Kukang bisa berjalan jauh untuk mencari makan.

Kukang termasuk satwa primata yang paling banyak diburu dan diperjual belikan

Kukang yang lucu, mata besar dan terkesan malu membuatnya menjadi salah satu primata yang paling banyak diperjual belikan dan diburu. Kukang jawa bahkan termasuk dalam Daftar 25 Primata Terlangka di Dunia (Top 25 Most Endangered Primates) versi IUCN. Dan nasib tak jauh berbeda juga menimpa tiga spesies kukang lain yang ada di Indonesia. Kita tentu ingin melihat anak cucu kita melihat kukang, bukan hanya sekedar mendengarnya dari dongeng dan cerita orang.

 

(Kontributor: drh. Mardini Kusumojati)

 

Pecinta Satwa
Freelance Contributor at Pecinta Satwa [dot]com
Beberapa kontributor lepas yang menulis artikel untuk Pecinta Satwa [dot]com. Masih ada yang aktif menulis dan ada yang sudah tidak aktif.